Tradisi Unik, Warga Peringati Maulid Dengan Perahu Hias

Tradisi Unik, Warga Peringati Maulid Dengan Perahu Hias

RADAR MAROS – Beragam tradisi unik masyarakat dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Seperti yang digelar di Dusun Manippasa, Desa Damai, Kecamatan Tanralili Maros, ribuan warga berduyun-duyun dan rela berdesak-desakan untuk melihat secara langsung ratusan perahu pinisi kecil yang dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik makan, pakain dan buah-buahan.

 

Tradisi ini dibuat bukan hanya kali ini saja. Setiap tahun, ribuan warga datang melihat tradisi yang diadakan hanya ada didua tempat di Sulawesi Selatan.  Selain di Cikoang Takalar, warga Maros di lokasi ini juga menggelar hal yang sama dengan nama Maudu Lompoa.

 

Dari penuturan warga, tradisi ini sudah berjalan selama lebih dari satu abad. Konon, Seorang ulama besar dari Arab Saudi yang diyakini sebagai cucu Nabi Muhammad SAW ke 16 beranama Jalaluddin, datang ke tanah Makassar untuk menyebarkan agama Islam. Ulama ini kemudian dikenal sebagai guru besar penyebar Tarikat Cikoang yang berkembang hingga saat ini.

 

“Tradisi ini sudah berjalan hampir satu abad dan dilaksanakan turun temurun oleh pengikut tarekat Cikoang. Kenapa kami pake Perahu Pinisi, hal ini sebagai simbol dari kedatangan Cucu Nabi yang ke 16 yang menggunakan perahu Pinisi menyebarkan agama Islam,” kata Umar, Ketua Pelaksana Maulid yang dikenal dengan nama Maudu Biseang.

 

Umar menuturkan, warga yang datang ke acara ini, bukan hanya warga Maros. Tapi juga banyak warga dari luar Maros, namun mereka adalah pengikut ajaran tarekat Cikoang. Mereka meyakini,  peringatan Maulid ini adalah bentuk kesyukuran kepada Allah SWT dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Meski mereka harus mengeluarkan modal yang besar untuk menghiasi satu perahu, mereka rela dan ikhlas untuk disedekahkan kepada warga lain.

 

“Satu perahu ini nilainya bisa mencapai sepuluh jutaan. Meski terbilang mahal, warga tidak merasa terbebani, karena kami yakin, hal ini sebagai bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT dan sebagai bukti cinta kami kepada Nabi Muhammad,” paparnya.

 

Yang menarik dari tradisi ini pula, setiap warga yang sudah menikah, wajib membuat satu perahu pinisi yang akan digunakan pada saat perayaan Maulid Nabi. Perahu-perahu yang terbuat dari kayu ini, akan disimpan rapih oleh seorang pemuka adat, jika saat perayaan Maulid, ratusan perahu-perahu mini ini akan dikeluarkan dan akan dihias oleh pemiliknya.

 

Selain itu, Umar mengatakan, warga yang datang dan berebut isi dari perahu ini, juga sudah menjadi tradisi. Mereka rela berdesak-desakan satu sama lain untuk sekedar mendapatkan satu buah telur ataupun isi lainnya dari perahu ini. “Apa yang mereka dapatkan saat berebut, juga diyakini sebagai berkah Maulid. Mereka bukan mengejar makanan, tapi berkah dari makanan yang disedekahkan oleh warga ini,” ucapnya.

 

Ketua DPRD Maros, Chadir Syam yang hadir dalam peringatan Maulid ini, mengatakan, tradisi ini sangat positif dan wajib dilestarikan. Menurutnya, jika hal ini diatur sedemikian rupa, akan menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang akan dilirik oleh wisatawan baik local, maupun macanegara. “Tradisi ini hanya ada di Maros dan di Takalar. Seharusnya, ini kita lestarikan dengan baik karena kedepannya, peringatan Maulid ini, bisa menjadi destinasi wisata Spritual di Maros,” ujarnya. 

No Responses

Leave a Reply