Miris, Satu Ruangan dua Kelas Disekat Dengan Gorden

Miris, Satu Ruangan dua Kelas Disekat Dengan Gorden

RADAR MAROS – Besarnya anggaran Pendidikan yang digelontorkan  Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ternyata tidak dirasakan oleh ratusan siswa di Sekolah Dasar Negeri 235 Tekolabbua, Kecamatan Maros Baru, Maros. Lantaran ruang kelas yang tidak mencukupi, dua ruang kelas terpaksa disatukan, disekat dengan sebuah kain gorden.

 

Didalam ruang yang sesak, puluhan anak SD dari kelas satu dan dua disatukan. Hanya ada kain gorden yang membentang membelah ruangan untuk memisahkan mereka. Meski jauh dari kenyamanan, bocah-bocah polos ini tetap semangat mengikuti pelajaran dari gurunya. Sesekali suasana riuh dari balik tirai bersahutan, namun tidak mengganggu mereka untuk meniti masa depan.

 

Di ruangan lainnya, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Puluhan murid kelas tiga dan lima di sekolah yang didirikan pada tahun 1970an ini, hanya dipisahkan dengan bentangan tirai gorden seadanya. Beberapa siswa yang tengah menerima pelajaran, bahkan terlihat berkeringat karena kepanasan dalam ruang sempit berukuran sekitar tujuh kali sepuluh meter ini.

 

Pihak sekolahpun menyangkal tidak pernah berbuat apa-apa dengan kondisi ini. Berkali-kali, pihaknya sudah mengajukan usulan penambahan ruang belajar baru kepada Dinas Pendidikan maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Maros.

 

Bahkan, atas arahan petugas dari Dinas Pendidikan, diawal tahun 2014, pihak sekolah kembali memasukkan surat permohonan untuk kesekian kalinya. Namun, hingga akhir tahun 2014, surat itu hanya masuk ke keranjang sampah. “Kami sudah berkali-kali memasukkan surat permohonan, tapi tidak pernah ada realisasi dari Dinas,” Ungkap Kepala SDN 235 Tekolabbua, Abdul Asiz.

 

Ironisnya, Meski kondisi ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun, pihak pemerintah dalam hal ini, Dinas Pendidikan seolah menutup mata dan terkesan melempar tanggung jawab. Betapa tidak, saat di konfirmasi terkait hal ini, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Maros, A Ato Palewai malah berkilah, jika pihaknya selama ini tidak memantau kondisi tersebut. “Kami belum pernah pantau, tapi kami akan anggarkan tahun ini,” kilahnya.

 

Keperihatinan dari banyak kalanganpun muncul, salah satunya Syamsiah (30) yang pernah menimba ilmu selama enam tahun di Sekolah ini. Ia menuturkan, kondisi ini sudah lama terjadi. Bahkan, saat ia bersekolah dulunya, hanya belajar didalam gubuk tua dengan kondisi seadanya. “Seingat saya Sekolah kami ini baru sekali diperbaiki oleh Pemerintah,” ungkapnya saat dijumpai, Kamis (7/1) kemarin.

 

Keprihatinan ini juga diungkap oleh Ketua DPRD Maros, Chaedir Syam saat mendatangi langsung Sekolah ini. Ia mengaku sedih melihat realitas ini dan telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan untuk sesegera mungkin memasukkan anggaran penambahan ruang kelas di sekolah ini.

 

“Tentunya kita prihatinlah melihat kenyataan ini. Kami sudah meminta ke Pemerintah Daerah melalui Kepala Dinas Pendidikan untuk segera mengajukan anggaran pembangunan ruang kelas di sekola ini. Jelasnya ini akan jadi perhatian buat kita semua,” paparnya.

 

Sementara itu, Ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Maros, Muhammad Syadiq, mengaku geram dengan situasi ini. Belum lepas dari ingatan, bagaimana SMA satu Maros yang sudah memiliki ruangan yang mewah dan cukup, malah ditambahkan dengan alas an yang melanggar aturan. Disisi lain, ternyata ada sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan. “Jelas ini sebuah bukti kegagalan Kepala Dinas Pendidikan Maros. Dengan anggaran yang begitu besar, tidak semestinya kondisi ini terjadi,” singkatnya.

No Responses

Leave a Reply