Dewan : Kasihan Sulsel, Guru dan Siswa

Dewan : Kasihan Sulsel, Guru dan Siswa
Ilustrasi

Kisruh yang berkepanjangan antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Sulsel Irman Yasin Limpo (None) yang tak kunjung usai, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Sulsel Ramli Rahim.

Menurut Ramli, pihaknya sangat resah jika saja berimbas pada hak guru utamanya sertifikasi guru- guru SMA/SMK di provinsi. Sebab menurutnya, pihak Pemprov Sulsel dalam hal ini Diknas Sulsel yang saat ini enggan melakukan klarifikasi surat sesuai permintaan Kemendikbud, belum juga dilakukan Sekda dan kepala dinas. Hal ini tentu akan berdampak pada pengolahan data sertifikasi guru.

“Tentu saja bisa sangat berdampak, walaupun memang tunjangan sertifikasi ini disalurkan melalui rekening masing-masing guru, tapi pengajuan data secara administrasi tetap harus melalui diknas. Nah kalau masalah ini belum clear dan kepala dinasnya masih belum mau bermohon, apalagi mengirimkan data sertifikasi ke kemendikbud, bagaimana tunjangan sertifikasi mau cair?,”kata Ramli kepada Radar Makassar, kemarin.

banner 728x90

Sesuai mekanisme pancairan tunjangan sertifikasi, pihak dinas pendidikan yang mendata berapa jam pelajaran setiap guru. Misalnya guru hanya mengajar 20 jam. Hal itulah yang harus dilaporkan diknas kepada kemendikbud, kemudian dananya ditransfer. “Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya saja ada baiknya kisruh ini secepatnya diselesaikan, sebab jangan sampai pendidik atau guru malah mendapat getahnya,” ujarnya.

Salah seorang guru SMA 1 Makassar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, hingga saat ini belum ada kejelasan kapan tunjungan sertifikasi guru dicairkan.

“Kita berharap bisa dicairkan seperti biasanya dan tidak mau mencampuri perselisihan yang terjadi antara disdik dan kemendikbub. Yang jelas sertifikasi masuk langsung ke rekening masing-masing guru langsung dari pusat,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi E DPRD Sulsel, Sri Rahmi menegaskan bahwa tidak ada yang bisa mengganggu hak-hak guru, sehingga dirinya meminta kepada Diknas Sulsel untuk segera mencabut suratnya terhadap kementerian agar tidak berdampak pada tunjangan sertifikasi.

“Hak-hak seperti itu tidak bisa diganggu, disdik diminta segera mencabut surat itu, kasihan Sulsel, guru dan siswa, karena banyak program kementerian yang tidak terlaksana dan dipending,” ujar Sri Rahmi.

Namun dirinya mengimbau kepada semua guru untuk tidak panik. Jika nantinya tidak ada pencairan sertifikasi maka pihaknya siap mefasilitasi. “Kalau ada guru yang tidak menerima tunjangan (sertifikasi) silahkan datang ke komisi E untuk melaporkan, kami siap fasilitasi dan mengawal guru- guru karena kinerja harus dibayarkan,”tegasnya.

Pengamat pemerintahan Hasrat Arief Saleh mengatakan, sebaiknya gubernur sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat mempertimbangkan lebih jauh masalah ini. Sebab menurutnya, dengan bertahan dengan cara seperti ini yang rugi justru adalah pemprov sendiri.

Seharusnya gubernur yang merupakan kepala pemerintahan di provinsi meminta agar kepala dinasnya bermohon dan mengklarifikasi. “Toh tidak ada untungnya ketika gara gara perkara menteri datang kemudian marah. Memang benar secara etika menteri kalaupun datang sepatutnya memberi pemberitahuan, tapi kalau gara-gara ini diknas tersinggung justru ruginya pada pemprov,” kata Hasrat.

Untuk itu, ia berharap sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, gubernur sudah seharusnya mencairkan masalah ini dan berhenti berkeras diri apalagi pihak kementerian sudah menunggu kedatangan kepala dinas. “Apa susahnya sih,” ujarnya.

Pasalnya, jika berlarut-larut justru merugikan penyelenggaraan pendidikan dan para pendidiknya, dimana hak guru untuk pembayaran sertifikasi bakal terancam dan biaya bantuan terhambat. “Sehingga bagaimanapun itu semua pasti akan menyalahkan kepala dinas,” tandasnya.

Dimintai tanggapan, None mengatakan bahwa dana tersebut tetap ada dan para guru tetap akan menerima tunjangan sertifikasi tersebut. “Ada, itu (dana sertifikasi guru) tidak mungkin tidak ada. Kalau kita sih logikanya pasti tetap ada,”singkatnya. (dir-kas-opa/awy)

No Responses

Leave a Reply