Kasus Rezky Berlarut-larut

Kasus Rezky Berlarut-larut
Ilustrasi

Hingga Maret 2017, tersangka penganiayaan yang berujung pada meninggalnya mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI), Rezky Evienia tak kunjung diadili. Sebab petunjuk jaksa tak juga dipenuhi oleh penyidik Polda Sulsel.

Pengamat dan praktisi hukum Mohammad Maulana mengatakan, penyidikan yang berlarut ini menjadi pertanyaan, sebab petunjuk jaksa harusnya mudah untuk dilengkapi. Namun, entah dengan alasan apa penyidik polda kesannya mengulur-ulur untuk melengkapi. “Sebenarnya ada apa dengan kasus ini, karena makin lama penyidik melengkapi permintaan jaksa, maka makin lama berkas ini disetujui,” kata Maulana kepada Radar Makassar, kemarin.

Menurutnya, dalam perkara ini sebenarnya pembuktian atas kematian Rezky agak sulit jika melihat pasal yang digunakan, sebab sejak awal penyebab kematian tidak digali. Dalam kasus ini, kata dia, adalah kelalaian, dimana pengkaderan yang dilakukan dengan pola kekerasan adalah dasar yang membuat Rezky harus mengalami drop.

“Kalau mau menjerat tersangka memang harusnya diketahui dulu sebab kematiannya, tapi toh tak ada juga keterangan soal itu. Makanya agar fakta terbuka di pengadilan, harusnya penyidik menjerat pihak yang bertanggung jawab dalam kegiatan pendidikan dasar ini, itu lebih mudah,”kata Maulana.

Hanya saja, penanganannya tidak mau mengarahkan kesana, akhirnya jaksa juga merasa berkasnya kurang dan tidak lengkap. Kasus yang berlarut ini pastinya sangat merugikan pihak keluarga korban dan tersangka yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari.

Dikonfirmasi, Kasipenkum Kejati Sulselbar, Salahuddin mengatakan, dalam berkas perkara sudah menambah tersangka baru. Hanya saja belum bisa diekspose sebelum pimpinan memerintahkan jaksa peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut. “Sudah ada masuk berkasnya, tapi sekarang belum diteliti karena sepertinya masih berada di meja pimpinan yang baru datang,” katanya.

Pengembalian yang sebelumnya dilakukan oleh jaksa peneliti adalah langkah untuk mengantisipasi adanya kemungkinan kegagalan dalam proses penuntutan. Terlebih, jaksa peneliti masih menemukan sejumlah kekurangan, baik secara formil maupun materil dalam berkas penyidikan tersebut.

“Kami memang melakukan pengembalian beberapa kali, itu supaya tidak ada celah lagi yang bisa menyebabkan terjadinya kegagalan dalam proses penuntutan di pengadilan. Maka dari itu, syarat formil dan materil dari penyidiknya harus lengkap,” ujar Salahuddin. (dir/awy)

No Responses

Leave a Reply