Golkar Bangkit di Tangan NH

Golkar Bangkit di Tangan NH
Nurdin Halid

Wakil Ketua Bidang Organisai Golkar Sulsel, Risman Pasigai, menegaskan bahwa di tangan Nurdin Halid (NH) Golkar Sulsel semakin bangkit. Bahkan, para pengurusnya juga semakin semangat dalam setiap acara kepartaian.

“Kalau melihat pergerakan struktur partai Golkar di Sulsel di bawah nakhoda NH memang mengalami kebangkitan yang sangat tinggi. Teman-teman pengurus di semua tingkatan semakin bergairah,” kata Risman di Makassar, kemarin.

Selain itu, harus diakui jika NH memang pemimpin yang memberikan terobosan politik yang bermuara kepada kepentingan rakyat.

Sementara NH yang juga ketua Harian DPP Partai Golkar, menegaskan bahwa dirinya yang saat ini sudah mendeklarasikan diri untuk maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018 mendatang tidak pulang ke Sulsel untuk mencari kekuasaan.

“Kalau saya hanya mau mencari kekuasaan, saya tidak perlu pulang ke Sulsel. Karena dengan jabatan saya sebagai ketua harian DPP Partai Golkar saja itu sudah cukup. Orang-orang yang mau jadi pemimpin di daerah yang mencari saya. Kalau mereka terpilih, jika saya berkunjung ke daerahnya, mereka yang jemput saya di bandara. Ngapain jadi gubernur kalau hanya mencari kekuasaan,” kata NH saat berkunjung ke kantor Redaksi Harian Radar Makassar, kemarin.

NH juga mengaku tidak pernah bermimpi untuk pulang ke Sulsel dan menjabat sebagai ketua DPD Partai Golkar Sulsel. “Saya tidak pernah berpikir ke sulsel untuk mengemban posisi atau jabatan ini (Ketua DPD Partai Golkar Sulsel). Tiba-tiba saya ditunjuk menjadi Plt. ketua di Sulsel, untuk melanjutkan dan bukan menggantikan pak Syahrul (SYL). Karena masa jabatan beliau sebagai ketua DPD memang sudah berakhir,” ujarnya.

Terkait keputusannya untuk maju di Pilgub Sulsel, NH menjelaskan bahwa hal tersebut tidak direncanakan, melainkan karena aspirasi dari masyarakat Sulsel. Tugasnya sebagai Ketua Golkar Sulsel untuk melakukan pembenahan dan konsolidasi partai.

Namun, saat melakukan kunjungan ke berbagai daerah, aspirasi dan dorongan atau permintaan kepadanya untuk maju terus mengalir. Hampir semua konsolidasi yang dilaksanakan Golkar juga dibanjiri masyarakat.

“Ini tidak pernah terjadi sejak zaman orde baru. Respon positif dari masyarakat ini yang membuat saya merespon. Saya baru merespon pada tanggal 18 Februari. Tepatnya setelah deklarasi Wajo. Itupun agendanya yang saya tahu hanya konsolidasi partai dan pembahasan mengenai mekanisme penjaringan calon, tapi ternyata memang aspirasi itu sudah tidak bisa dibendung,” terang NH.

Selain itu, apa yang dilakukannya selama beberapa waktu terakhir dalam bentuk kunjungan atau silaturrahmi ke sejumlah partai politik bukanlah untuk mencari dukungan, tetapi lebih kepada untuk menyamakan persepsi bahwa dalam berdemokrasi dan berkompetisi harus dilakukan secara sehat.Pasalnya, kata dia, jelang Pilgub Sulsel, hari-hari mendatang tensi politik pasti semakin tinggi.

Menurut NH, demokrasi di Indonesia sekarang ini sudah kebablasan dan sangat liberal. Olehnya itu, diperlukan kearifan dalam berkompetisi mencari pemimpin. Berbahaya, kata NH, jika terlalu berambisi akrena bisa jadi tidak memandang nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat setempat. “Makanya kita coba bangun komitmen bersama untuk berkompetisi secara sehat. Saya tidak ingin saya yang bertarung, tapi rakyat kecil yang jadi korban. Saya tidak mau hal itu terjadi,”tuturnya.

Di saat-saat seperti ini, media juga memegang peranan yang cukup penting untuk ikut menjaga kondisi dan memberikan pencerahan kepada masyarakat. “Pers itu sangat penting dalam segala hal. Karena pers itu bisa bikin hitam, putih atau kuning. Jadi harus mampu mencerahkan,” ucapnya.

NH juga memuji kinerja pemerintahan di Provinsi Sulsel saat ini yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga melampaui angka pertumbuhan secara nasional. “Kinerja pemerintah provinsi saat ini luar biasa baiknya. Pertumbuhan ekonomi Sulsel di atas nasional, tapi sayangnya belum merata. Itu yang harus dibenahi,”tutupnya. (opa-kas)

No Responses

Leave a Reply