Ini Faktor Penyebab Terus Meningkatnya Angka Perceraian

Ini Faktor Penyebab Terus Meningkatnya Angka Perceraian

MAKASSAR – Angka perceraian terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bahkan, trendnya pun kini berbalik. Jika dulunya kasus perceraian didominasi cerai talak (diajukan pihak suami), beberapa tahun belakangan ini kasus perceraian justru didominasi cerai gugat (diajukan pihak istri). Apa penyebabnya?

Menurut Psikolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Widyastuti,  angka kasus cerai gugat yang terus meningkat itu disebabkan banyak faktor. Diantaranya, semakin meningkatnya tingkat pendidikan istri. Sehingga membuatnya lebih paham terhadap hak dan kewajiban yang dimilikinya. 

“Sebagai contoh, apabila terjadi KDRT. Dahulu hal itu dianggap biasa, sehingga mereka (istri) menerima saja perlakuan yg kurang baik dari suaminya. Tetapi saat ini, kesadaran hukum istri untuk melepaskan dirinya dari KDRT semakin meningkat. Sehingga hal ini yang membuat istri menuntut keadilan pada suami, dan berujung pada perceraian,” kata Widyastuti.

Selain itu, kemampuan istri untuk mencari nafkah secara mandiri juga disebutnya menjadi salah satu hal yang memicu meningkatnya angka kasus cerai gugat. 

Dahulu, kata dia, kehidupan istri sangat tergantung pada suami. Istri juga harus menurut dan menerima apapun perlakuan suami. Pasalnya, istri mesti berfikir ulang jika harus bercerai dari suaminya, karena tidak ada lagi yang menafkahinya. 

“Tetapi saat istri mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, persoalan nafkah bukan lagi menjadi masalah bagi istri. Sehingga jika istri merasa mendapat perlakuan yang tidak atau kurang baik daei suaminya, berceraipun tak jadi soal baginya,” ujarnya. 

Lebih jauh, Widyastuti juga melihat adanya  pergeseran nilai. Dimana saat ini masyarakat tak lagi mempermasalahkan status kekeluargaan seorang wanita.

“Jika dahulu status janda dalam lingkungan masyarakat dianggap sangat buruk, sehingga apapun perlakuan yang diterimanya, istri tidak bersedia bercerai dari suaminya. Maka saat ini mulai terjadi pergeseran nilai, karena orang tidak lagi mempermasalahkan status kekeluargaan seorang wanita,” tutupnya. (opa)

No Responses

Leave a Reply