Gempita-PerDIK Buka Peluang Difabel untuk Bertani

Gempita-PerDIK Buka Peluang Difabel untuk Bertani

MAKASSAR – Gerakan Pemuda Tani (Gempita) Indonesia mencanangkan sebuah program yang melibatkan difabel di Sulsel melakukan budidaya tanaman jagung untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur. 
Program tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Pengurus Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan(PerDIK), yang digelar di kantor PerDIK di Makassar, baru-baru ini. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gempita Indonesia, Abdul Waris mengatakan, program ini merupakan inisiatif dari Gempita Sebagai upaya untuk mengurangi besaran impor pakan maupun pangan ke Indonesia, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga petani melalui distribusi hasil panen yang lancar dan harga jual yang lebih terjamin. 

Waris menjelaskan, di berbagai daerah, program yang diusung oleh Gempita ini mendapat respon yang sangat baik.Bahkan di beberapa kabupaten di Sulsel, kata dia, geliat orang-orang muda petani yang hendak berpartisipasi semakin meningkat. 

“Kami akan memastikan, keseluruhan proses mulai dari pembentukan kelompok, masa tanam, panen sampai distribusi hasil panen akan terus dikawal oleh Gempita,” kata Waris, saat memaparkan tahapan pembentukan kelompok petani inklusi dihadapan pengurus PerDIK. 

JIka di setiap daerah sudah ada kelompok difabel yang bersedia turut serta dalam program ini, lanjut Waris, maka nantinya koordinator Gempita dari setiap kabupaten akan berkoordinasi dengan kelompok tersebut, dan memberikan bantuan teknis jika dibutuhkan.

Koordinator Gempita Sulsel, Asrul Herman menambahkan, pihaknya berharap kepastian tersedianya CPCL (Calon Petani Calon Lahan) sudah tercapai pada akhir Juli nanti. Pasalnya, pada bulan September mendatang sebagian wilayah Sulsel sudah memasuki masa tanam.

“Kami berharap, Juli sudah terbentuk (kelompok tani difabel). Sehingga Agustus nanti proses pencairan bibit dan pupuk sudah bisa berjalan, dan petani bisa menanam pada awal September. Kami berharap kerjasama ini bisa berjalan,” kata Asrul.

Menanggapi hal tersebut, Direktur PerDIK, Abd Rahman mengatakan bahwa PerDIK adalah gerakan difabel untuk mendorong inklusi di dalam proses pembangunan. olehnya itu, pihaknya sangat berharap agar program Gempita ini juga membuka peluang bagi difabel, khususnya yang ingin bekerja sebagai petani untuk berkontribusi dalam gerakan.

Ketua PerDIK, Ishak Salim menambahkan, pihaknya akan bekerjasama dengan Ikatan Alumni PSBD Wirajaya dan organisasi difabel di berbagai daerah.

“Jika difabel atau petani difabel bisa turut serta maka program ini bisa disebut sebagai program bertani inklusi, dan menjadi wadah pergerakan dalam membangun martabat difabel di bidang pertanian. Kemarin sudah kami sampaikan melalui group internal IKA tentang peluang program Gempita mengikutsertakan difabel untukberpartisipasi, dan respon alumni sangat antusias. Dari berbagai daerah, banyak yang berminat mencobanya. Seperti alumni dari Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng, Takalar, Enrekang, Luwu, dan Toraja,” kata Ishak. (*/opa)

No Responses

Leave a Reply