Dishub Inventarisasi Kelaikan Halte BRT

Dishub Inventarisasi Kelaikan Halte BRT

MAKASSAR – Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan inventarisasi dan pengecekan fisik terhadap 110 unit halte Bus Rapid Transit (BRT) yang telah dibangun sejak tahun 2013 hingga 2016.

“Pemantauan fisik dan inventarisasi tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi dan kelayakan (kelaikan) halte yang telah dibangun. Semua jelas lokasi dan titik koordinatnya,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Transportasi Mamminasata Dishub Provinsi Sulsel, Fahlevi, kemarin. 

Dari hasil pemantauan fisik tersebut, Fahlevi mengakui jika ada beberapa halte yang kondisi catnya sudah pudar, tidak punya papan nama, dan beberapa kerusakan lainnya. Namun, ia tidak menyebutkan secara pasti berapa jumlah halte yang berada dalam kondisi rusak dan seperti apa langkah pembenahan yang akan dilakukan. 

“Saya ditugaskan melakukan inventarisasi seperti apa fisik setiap halte yang dibangun. Memang ada yang mengalami kerusakan. Namun data lengkapnya ada di kantor. Saya tidak mampu jelaskan secara rinci letak halte yang rusak tersebut. Yang pasti, hasil dari pemantauan itu akan dijadikan acuan untuk diinventarisasi sesuai kebutuhan masing-masing,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dishub Provinsi Sulsel, Ilyas Iskandar membenarkan pemantauan fisik dan inventarisasi halte BRT yang dilakukan pihaknya. Hasil dari inventarisasi lapangan itu, kata dia, akan dijadikan sebagai bahan evaluasi. 

“Kami sudah melakukan inventarisasi halte BRT. Hasilnya itu akan dijadikan bahan evaluasi, mana yang perlu diperbaiki, dicat dan lainnya. Setelah itu dihitung-hitung, kebutuhan anggarannya kemudian diusulkan untuk perbaikan tahun depan,” kata Ilyas. 

Pihaknya, lanjut Ilyas, akan tetap fokus melengkapi sarana BRT sesuai tugas instansinya.

“Angkutan massal BRT ini kan program pusat. Pemprov mendukung dengan menyediakan fasilitas sarana dan prasarana. Sejauh ini, BRT baru beroperasi di 4 koridor di kawasan Mamminasata. Menurut perencanaan itu, ada 11 koridor yang akan dioperasikan. Artinya, masih ada 7 koridor lagi yang akan kami genjot untuk bisa segera direalisasikan,” ungkapnya.

Untuk melengkapi koridor tersebut, pihaknya menyiapkan anggaran sebesar Rp6,7 miliar yang nantinya akan dipergunakan membangun sarana dan prasarana BRT berupa 42 titik halte baru.

Ilyas mengakui jika saat ini operasional BRT memang belum efektif. Masa tunggunya yang masih lama disebutnya menjadi salah satu penyebab hal tersebut.  

“Tapi kita terus mensosialisasikan migrasi dari kendarana pribadi ke angkutan massal BRT. Khususnya kepada para pelajar dan mahasiswa. Termasuk sosialisasi jalur prioritas BRT yang belum dipatuhi pengguna jalan lain,” terangnya.

Sekadar diketahui, saat ini armada BRT baru melayani koridor I (Bandara-Mal GTC), koridor II (Mal GTC-Mal Panakkukang), koridor III (Terminal Daya-Terminal Pallangga), dan koridor IV (Terminal Daya-Terminal Maros).

Sementara koridor yang belum terlayani yaitu koridor V (Untia-Terminal Pallangga), Koridor VI (Terminal Pallangga-Mal GTC), Koridor VII (Terminal Pallangga-Terminal Takalar), Koridor VIII (Terminal Takalar-Mal GTC). Koridor IX (Terminal Daya-Terminal Pallangga), Koridor X (Terminal Daya-Terminal Pallangga via lingkar luar Bontomanai) dan Koridor XI (Terminal Maros-Barombong). (pop/opa).

No Responses

Leave a Reply