Faktor Ini Bisa Jadi Penentu Kemenangan di Pilkada Sulsel

Faktor Ini Bisa Jadi Penentu Kemenangan di Pilkada Sulsel
Int

RadarMakassar.com – Kontestan perempuan dalam sebuah kontestasi politik seperti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) masih sangat minim. Padahal, salah seorang aktivis perempuan Sulsel, Lusia Palulungan mengatakan, dalam kontestasi politik seperti Pilbup/Pilwali maupun Pilgub, pasangan calon yang bisa mengakomodir keterwakilan perempuan, baik itu sebagai kepala daerah maupun wakil, memiliki potensi meraih suara yang lebih besar dari pasangan calon lainnya.

“Karena kalau kita lihat di data daftar pemilih, jumlah perempauan itu lebih besar dari laki-laki. Apalagi kalau bisa memainkan isu gender ‘perempuan pilih perempuan’, dan isu-isu yang menyetuh atau mengangkat persoalan yang selama ini dialami perempuan. Seperti angka kematian ibu yang masih tinggi, kekerasan terhadap perempuan, pernikahan anak, dan lain sebagainya,” kata Lusi, Jumat (29/9/2017)

Para aktivis perempuan di Sulsel, lanjut Lusi, memang menginginkan adanya figur atau tokoh perempuan yang maju dalam Pilkada. Dengan harapan, figur tersebut bisa menjadikan permasalahan yang selama ini dihadapi perempuan sebagai salah satu sasaran dari visi misinya, serta berkomitmen untuk merealisasikan itu jika nantinya terpilih.

“Kalau ada pasangan calon yang mengakomodir perempuan, kita berharap dia bisa membuka komunikasi dengan para aktivis perempuan untuk meng-asessment, kira-kira apa yang menjadi persoalan perempauan untuk dimasukkan dalam visi misinya dan diimplementasikan nanti jika dia terpilih. Kalau ada yang seperti itu, pasti kami akan mendukung. Karena dengan begitu, kita (perempuan) bisa dapat dua sekaligus. Yakni orang yang bisa memperjuangkan kita, dan ada keterwakilan,” ujarnya.

Meski begitu, Lusi mengatakan bahwa pasangan calon tersebut harus bisa terlebih dahulu memberikan pendidikan politik kepada masyarakat untuk menjadi pemilih yang cerdas, dan mematahkan mindset yang selama ini masih mendominasi masyarakat Indonesia, termasuk di Sulsel.

“Tapi problemnya adalah, di Indonesia atau di Sulsel saat ini masyarakat belum menjadi pemilih yang cerdas. Mereka masih pemilih konvensional yang dipengaruhi oleh hubungan keluarga, memilih berdasarkan arahan suami atau orang-orang dekat, atau bahkan memilih berdasarkan materi (uang) yang diberikan oleh calon. Setiap Pilkada, yang ditanyakan masyarakat bukan bagaimana kapasitas, apa yang sudah dia lakukan atau bagaimana hubungannya dengan masyarakat, tapi masalah uang. Sehingga ini yang akan meyulitkan,” paparnya.

Lebih jauh, Lusi mengungkapkan bahwa hal yang selama ini menyebabkan minimnya perempuan tampil dalam konstestasi politik tak terlepas dari kurangnya pendidikan politik yang diberikan kepada perempuan. Baik itu di partai politik maupun lembaga-lembaga lain.

“Meskipun memang sudah ada beberapa lembaga-lembaga nasional yang sudah melakukan hal tersebut, tapi itu masih sangat minim. Itu yang selama ini menjadi kritikan dari teman-teman aktivis perempuan. Dan ini bukan hanya sebatas soal kapasitas, tapi juga bagaimana political will dari parpol-parpol dalam melakukan penjaringan calon atau kandidat,” ungkapnya.

Hampir seluruh parpol, kata dia, tidak pernah melakukan upaya-upaya atau pendekatan untuk meng-asessment lebih jauh figur-figur bakal calon.

“Jadi mereka sifatnya menunggu. Ini juga yang jadi problem tersendiri bagi perempuan. Karena kita tahu, Pilkada sekarang itu sangat diwarnai dengan nuansa sara, money politic, hingga primordialisme. Sehingga perempuan itu tidak akan dengan mandiri tiba-tiba mau mengakui bahwa dia punya potensi dan siap untuk tampil. Hal-hal itu sangat berpengaruh,” tutupnya.

Penulis : Opa

No Responses

Leave a Reply