Sudah Soft Launching, Izin Hotel Ini Masih Bermasalah

Sudah Soft Launching, Izin Hotel Ini Masih Bermasalah
Grand Sayang Park Hotel

RadarMakassar.com – Hotel Grand Sayang Park (GSP) milik aset Perusda Sulsel di soft launching, Senin (9/10). Soft launching sendiri dihadiri oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Wakil Gubernur Agus Arifin Nu’mang dan Ketua DPRD Sulsel, Muh Roem.

Pada kesempatan tersebut, Syahrul mengatakan, hotel ini sebagai ganti dari Hotel Arya Duta yang selama ini diklaim hilang dari aset Pemprov Sulsel. “Tidak ada aset yang hilang, kita mengembalikan aset yang ada. Saham pemerintah tidak hilang begitu saja,” kata Syahrul.
Syahrul menegaskan, jika GSP masih bersoal, maka yang perlu dibereskan adalah manajemen hotel. “Kalau ini masih salah seperti sebelumnya, berarti salah di manajemen. Berarti perlu pembaharuan,” ujarnya.

Meskipun secara admisnitrasi, GSP masih memiliki izin yang berproses di pemprov, Syahrul menilai itu tak jadi masalah. “Tidak pakai persetujuan juga tidak apa-apa. Pakai saja. Yang ndak boleh kau pindahkan aset negara, masukkan di kantong,”katanya.

Ia menambahkan, GSP memang masih memiliki kekurangan. Termasuk akses jalan ke hotel hingga saat ini belum ada. “Saya sudah minta Wali Kota Makassar (Moh Ramdhan Pomanto) buatkan jalan dari jalan metro ke sini. Dari pinggir kanal,” katanya.

Sementara, Kepala Bidang Perekonomian Sulsel, Sukarniaty Kondolele meminta Perusda agar menyelesaikan dahulu semua administrasi hotel sesuai aturan berlaku. Kata dia, beberapa aspek legal harus dipenuhi. Perusda sudah mengusulkan melalui Badan Pengawas untuk prosesnya. “Ini penting sebelum hotel dinyatakan nanti bisa dioperasikan secara resmi,” kata Any, sapaannya.

Termasuk, kata Any, investor yang akan bekerja sama dengan Perusda nantinya harus diperjelas. “Yang masih terkendala ini mereka belum menentukan siapa investor yang mau bekerjasama,” tandasnya.

Sebelumnya, Dirut Perusda Sulsel, Haris Hodi mengatakan untuk perizinan hotel hingga saat ini belum semuanya terpenuhi. “Kita masih urus sebagian di Pemprov. Yang ada saat ini izin operasional, Amdal dan amdalalin,” kata Haris.

Kata Haris, pihaknya masih menunggu aspek legal dan administrasi yang akan diterbitkan Pemprov. “Itu dari Biro Ekonomi. Semoga segera terbit. Tidak harus tertulis (izinnya). Secara izin untuk operasional sudah ada. Soft launching sudah memenuhi syarat,” bebernya.

Awalnya, kata Haris, pihaknya akan menggunakan operator hotel tetapi karena ada beberapa syarat yang tidak bisa disepakati sehingga akan dikelola mandiri. Untuk dana operasi awal, pihaknya menggandeng sejumlah mitra untuk pembiayaan alternatif. “La’Riz sendiri menjadi konsultan kami untuk melatih karyawan hotel karena mereka berpengalaman dalam pengelolaan hotel bintang tiga,” ujarnya.

Perusda menjamin, pengoperasian hotel ini akan memberi manfaat dan sumbangan PAD baru bagi Pemprov. Kata dia, prospek kedepannya cukup bagus karena hotel ini berada di kawasan taman seluas 4,5 hektare dan hotel pesaing cukup jauh lokasinya. “Akses jalan masuknya saat ini masih pinjam dari perumahan. Tahun depan, Pemprov akan bangun jalur dari Metro Tanjung Bunga,”tandasnya.

Untuk peresmian sendiri, kata Haris belum dilakukan. Masih ada beberapa kekurangan dari fasilitas hotel yang harus dibenahi. “Ini kan belum penyerahan sepenuhnya karena 100 persen belum selesai. Masih ada mechanical electricalnya, internetnya juga belum. Kita masih uji coba juga ini,” ucapnya.

Direktur Umum dan Keuangan Perusda Sulsel, Tony Pahlevi menambahkan, investasi awal hotel yang tercatat sebagai aset Perusda ini senilai Rp16 milyar untuk pembangunan fisik gedung. Nantinya, Perusda akan menyetor 55 persen ke Pemprov Sulsel sebagai deviden. “Dari target PAD Rp1 milyar, diharapkan bisa menyetor Rp600 juta ke pemprov,” kata Tony, kemarin.

Tony mengatakan selain GSP, Perusda juga memiliki aset hotel lain di Makale, Tana Toraja, Hotel Batu Papan. Tony mengklaim, sumbangan PAD dari sektor perhotelan cukup optimal tiap tahun. Hanya saja, rinciannya belum tercatat detail. “Sumbangan PAD Perusda konsolidasi dengan unit lain. Kisaran Rp400 juta per tahun. Memang kita ditarget ke RKAP kita tahun ini Rp900 juta lebih. Saya harap bisa lebih,” ujarnya.

Penulis : Clara

Editor : Awy

No Responses

Leave a Reply