Gerindra dan Demokrat Jadi Penentu

Gerindra dan Demokrat Jadi Penentu
Ilustrasi

RadarMakassar.com – Jelang tahapan pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur untuk mengikuti Pilgub Sulsel, konstelasi politik dan arah dukungan parpol semakin mengerucut. Sejumlah parpol sudah ada yang menyatakan dukungan secara resmi, bahkan ikut mendeklarasikan salah satu pasangan bakal calon. Saat ini, tinggal Partai Gerindra dan Demokrat yang masih silent soal siapa calon yang akan didukung.

Pakar politik dari Universitas Hasanuddin Makassar, Andi Ali Armunanto mengatakan, kedua partai yang sama-sama memiliki 11 kursi di parlemen ini, akan menjadi penentu jumlah kontestan Pilgub Sulsel. Bahkan, berpotensi membentuk poros koalisi sendiri.

“Saya pikir, saat ini arah dukungan parpol sudah mulai terpolarisasi dan tidak secair beberapa waktu lalu. Sekarang tinggal menunggu Gerindra dan Demokrat mau kemana. Karena itu jadi modal besar bagi calon yang akan didukungnya,” kata Andi Ali, Rabu (11/10/2017).

Menurutnya, melihat konstelasi politik saat ini, arah dukungan parpol bukan lagi hanya sebatas calon mencalonkan atau dukung mendukung saja.

“Tapi ini juga persoalan bargaining politik. Siapa mendapat apa,” tuturnya.

Dukungan PAN Bakal Terpecah

Khusus untuk kondisi yang saat ini terjadi pada Partai Amanat Nasional (PAN), dimana rekomendasinya masih sama-sama diklaim oleh dua pasangan bakal calon, yakni Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman (NA-SS) dan Ichsan Yasin Limpo-Andi Muzakkar (IYL-Cakka),
besar kemungkinan salah satu pasangan calon akan mendapatkan ‘kendaraan kosong’ alias hanya mendapat rekomendasi tanpa dukungan dari kader dan simpatisannya.

“Kemungkinan besar itu yang akan terjadi, karena ada kekecewaan. Kita bisa lihat presedennya kemarin di Pilpres. Dimana saat itu anggota Golkar disuruh memilih calon yang diusung Golkar, sementara kedekatan emosionalnya lebih kepada Jusuf Kalla. Nah mungkin itu yang akan terjadi kalau misalnya kader dan simpatisan PAN punya kedekatan emosional yang kuat dengan IYL, lalu kemudian instruksi nasional harus mendukung NA, maka ini akan jadi polemik,” ujarnya.

Meski begitu, bila melihat tradisi kepartaian dan model pengelolaan partai politik di Indonesia,
Andi Ali meyakini, tidak semua kader dan simpatisan akan ke IYL. Pasalnya, kata dia, pasti ada orang-orang di struktur partai yang tidak mau kehilangan kekuasaan atau kedudukannya, dan memilih untuk mengarahkan dukungannya ke NA-SS sesuai instruksi DPP. Sehingga, rekomendasi yang didapatkan tidak benar-benar kosong, dan pemilik kursi PAN di parlemen juga akan mengikuti instruksi DPP.

Terlebih, sebagai organisasi profesional, tentu saja strukturnya harus loyal ke pimpinan partainya yang diatas.

“Persoalan ikatan emosional harusnya tidak mengganggu kinerja organisasi. Mungkin yang akan terganggu hanya personalitas dari orang-orang di partai itu yang memang dari awal sudah menyatakan dukungannya ke IYL. Kondisi ini juga dengan sendirinya akan memperlihatkan, apakah struktur partai di daerah loyal ke pusat atau loyal ke IYL,” tutupnya. (**)

 

Editor : Opa

No Responses

Leave a Reply