Pemasaran Produk IKM Terkendala Perizinan 

Pemasaran Produk IKM Terkendala Perizinan 
RadarMakassar.com – Sejumlah Industri Kecil dan Menengah (IKM) di berbagai daerah di provinsi Sulsel masih terkendala masalah perizinan untuk bisa memasarkan produk-produknya ke retail-retail modern. Padahal, dari segi kualitas, produk yang dihasilkan IKM-IKM ini tidak kalah jika dibanding industri yang saat ini produknya banyak dipasarkan di sejumlah pusat perbelanjaan. Hal ini diungkapkan Muhsin Mangka, Ketua Koperasi Tani dan Nelayan (Koptan) Sipakatau Kabupaten Maros, yang menggandeng serta mendampingi IKM Usaha Sukses Sejahtera dalam pengembangan dan pemasaran produknya berupa beras merah.
Muhsin mengatakan, saat ini, untuk pemasaran dalam skup lokal (Maros), hampir seluruh masyarakat Maros sudah mengetahui dan mengakui kualitas beras merah produksi Usaha Sukses Sejahtera. Beberapa Koperasi dan Mall di Makassar dan Maros juga sudah membantu memasarkan produknya.
“Beras merah ini sebetulnya sudah ada produksi beberapa daerah, seperti Toraja dan Enrekang yang cukup terkenal. Cuma yang kita kembangkan sekarang ini berbeda dengan beras merah yang lain, karena yang kami punya ini lebih pulen dari yang ada selama ini. Baru tiga musim kita kembangkan di Maros, bekerjasama dengan petani. Kita berikan bibit dan kita bantu dengan pupuk organik. Alhamdulillah bisa menjadi salah satu produk unggulan,” kata Muhsin.
Hanya saja, lanjut Muhsin, untuk pemasaran dalam skup yang lebih luas, dalam artian masuk ke retail-retail modern dan ke luar pulau, pihaknya masih terkendala masalah perizinan dari Kemeterian Pertanian (Kementan).
“Sebenarnya banyak yang mau menjadi mitra kita, terutama ritel modern dan beberapa buyer. Hanya saja, untuk bisa bekerjasama harus memenuhi beberapa persyaratan pendukung. Salah satunya, izin dari Kementan. Kemarin kita sudah disurvei dari ketahanan pangan. Karena untuk mencapai nilai jual beras itu ke luar pulau dan bisa masuk ke retail modern, hasil produksi dari Usaha Sukses Sejatera yang masih tergolong IKM atau industri rumah tangga ini butuh surat izin dari Kementan yang menyatakan bahwa ini layak,” ujarnya.
Olehnya itu, Muhsin berharap pemerintah melalui instansi terkait, utamanya Dinas Ketahanan Pangan bisa membantu agar izin dari Kementan tersebut bisa segera diterbitkan. Terlebih, kata dia, Dinas Ketahanan Pangan sudah membuktikan sendiri seperti apa hasil produksi beras merah IKM Usaha Sukses Sejahtera.
“Para petani itu sebenarnya sangat berharap itu (izin Kementan) bisa segera dikeluarkan. Mereka semua mau menanam beras merah ini karena harga gabah kami ini juga diatas harga beras biasa. Retail-retail modern juga tinggal menunggu izin itu agar produk kami bisa dipasarkan di tempat mereka,” ungkapnya.
Disinggung soal bantuan dari pemerintah, Muhsin mengatakan, sejauh ini untuk bantuan dalam bentuk materi per titik lokasi penanaman belum ada. Tetapi Dinas Koperasi Provinsi Sulsel maupun Kabupaten Maros telah memberikan bantuan pengembangan usaha.
“Kami diikutkan workshop, Bimtek, dan pameran-pameran. Alhamdulillah pembinaan dari Dinas Koperasi baik provinsi maupun kabupaten Maros itu selalu ada.  Itu sangat membantu, karena tujuan kami ingin mensejahterakan petani. Saat ini yang menanam beras merah di Maros itu ada 3 sampai 4 kecamatan. Hanya saja dalam jumlah yang masih kecil, karena kita sesuaikan dengan permintaan konsumen. Per hektare bisa mencapai 7-8 ton,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Koperasi Bintang Muda, Stefanus, yang sudah setahun terakhir mengakomodir produk-produk dari para pelaku industri kreatif, industri rumah tangga dan UMKM di Tanah Toraja, juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengaku masih mengalami kendala dalam memasarkan produk dan pengembangan industri atau usaha lokal di daerahnya.
Stefanus mengungkapkan, beberapa produk andalannya seperti makanan, kopi dengan berbagai varian, dan hasil-hasil kerajinan lokal Tanah Toraja, saat ini masih kesulitan untuk bisa dipasarkan di luar daerah (Sulsel).
“Kita masih mengalami beberapa kendala. Salah satunya yaitu masalah perizinan. Sudah lebih 8 bulan kita mengajukan izin ke kementerian, tapi sampai saat ini belum keluar izinnya, sementara, kalau kita mau pasarkan produk kita ke luar daerah, kita takutnya akan ditolak karena izinnya belum lengkap. Olehnya itu, kami berharap pemerintah bisa membantu memfasilitasi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah dalam hal perizinan,” ungkap Stefanus. (**)
Editor : Opa

No Responses

Leave a Reply