Mudik Lebaran Sebagai Tradisi Warga untuk Kangen-kangenan

Mudik Lebaran Sebagai Tradisi Warga untuk Kangen-kangenan

RadarMakassar.com – Mudik ke kampung halaman menjadi salah satu tradisi menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Pakar Sosiolog UIN Alauddin Makassar Muhammad Ridha sepakat dengan hal ini. Menurutnya, mudik menjelang lebaran memang telah menjadi fenomena sosial setiap tahun yang khas.

“Setiap orang tumbuh dari lingkungan tertentu dan lingkungan itu tidak selalu bisa ia tempati seterusnya. Karena itu, dia bisa pergi ke mana-mana,” kata dia.

Lalu apa yang dirindukan di kampung halaman? Entah itu kulinernya, kawan-kawan semasa kecil di lingkungan sosial, lingkungan fisiknya, serta ruang di mana dia merasa dekat dengan sanak keluarga.

“Namun, dalam prosesnya mereka selalu merindukan suasana-suasana kampung halaman,” tuturnya.

Namun, kata Ridha, kampung halaman saat ini definisinya sudah mulai berubah. Ketika tempat tinggal kebanyakan orang di perkotaan justru bukan lagi kampung yang dulu dibayangkan sebagai ruang.

“Coba bayangkan kalau orang tinggal di Superblok dan dia lahir di sana. Sekarang generasi milenial yang lahir di Superblok  itu membuat goyang definisi yang dulu kita sebut kampung halaman yakni ada kebun, kawan-kawan, keluarga, masih ada ruang yang luas. Namun, nyatanya sekarang ini kampung halamannya berubah menjadi gedung tinggi yang tidak ada halamannya sama sekali kecuali lorong. Tapi mudik tetap Fenomena khas di negeri muslim memang,” ungkap dia.

Tak hanya terjadi pergeseran definisi, Ridha juga menilai terjadinya pola mudik yang berubah. Ekspektasi dan estimasi orang-orang soal ruang dan waktu sudah mulai berubah.

“Terutama di Jawa, fasilitas-fasilitas yang baik, kalau kita liat berita-beritanya, pola mudiknya berubah. Misalnya dari Bekasi ke Jawa Tengah, tahun lalu orang harus menempuhnya 20 jam atau 18 jam, sekarang ditempuh hanya 6 jam, misalnya. Orang kalau dulu dari Jakarta ke Semarang menempuhnya sekitar 48 jam, sekarang mereka hanya menempuhnya sekitar 6-7 jam,” paparnya.

Dulu, orang dari Jakarta ke Surabaya tidak pernah berpikir akan sampai dalam waktu 12 jam, namun sekarang, jarak tempuh yang dilalui tak lebih dari 12 jam. Menurutnya, infrastruktur yang dibangun oleh rezim Jokowi saat ini membuat sedikit revolusi pemanasan atas bagaimana cara orang-orang Jawa pulang ke kampung halaman.

“Kalau dulu kan susah-susah, capek-capek, sehingga estimasi mereka atas ruang dan waktu yang ditempuh tuh memang kompleks,” beber dia.

Mereka yang mau mudik, lanjutnya, harus mempersiapkan diri untuk menempuh jalur darat dua hari dua malam. Sekarang mereka menempuh tol-tol yang sudah menghubungkan jalan. Baik di bagian selatan maupun di bagian Utara dan tengah.

“Sekarang ya orang dari Jakarta ke Surabaya, tidak sampai satu hari, hanya 12 jam mereka sudah sampai. Dan itu mengubah pola mudik masyarakat. Sekarang mereka lebih rilex, santai, ringkas, macetnya gak panjang, gak lama,” tuturnya.

Sementara, di Sulawesi Selatan sendiri, tidak ada yang berarti besar infrastruktur nya kecuali yang ramai dibicarakan, yakni jembatan layang di Camba. Hal itu yang sedikit mengubah praktis perjalanan pemudik pulang ke kampung halaman.

“Dari kota kan. Kalau daerah atas misalnya, gak ada apa apa kan, jalan tetap itu itu juga, rusak, sama seperti yang dulu. Yang bertambah hanya macetnya, karena kendaraan bertambah banyak sementara jalan dan luasnya tidak pernah bertambah,” ulas Ridha. (dil/fly)

No Responses

Leave a Reply