Pelemahan Rupiah Picu Kenaikan Harga Sembako

Pelemahan Rupiah Picu Kenaikan Harga Sembako

Jakarta, Radar Makassar – Ekonom Indef,  Abra Talattov mengingatkan pelemahan rupiah yang berlangsung lama akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.  Sebab,  pemerintah masih mengandalkan barang-barang impor untuk kebutuhan pangan.

“Beras kita impor. Meskipun tidak dikenakan tarif PPh,” ujar Abra,  di Jakarta.

Dengan terdepresiasi nilai tukar,  maka secara otomatis nilai impor naik. Bahkan, kenaikan harga sudah terjadi untuk komoditas kedelai. “Itu kan sudah naik dan menjadi bahan baku industri UMKM untuk pembuatan tahu, tempe dan seterusnya. Dan itu pasti tahu tempe termasuk kebutuhan pokok yang menyumbang inflasi, ” kata dia.

Sementara itu,  untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, Abra memprediksi tidak akan dinaikan hinggga 2019. Padahal, migas turut berkontribusi besar terhadap defisit neraca berjalan. Masalahnya, volume impor meningkat, dan nilai impornya juga meningkat karena depresiasi nilai tukar.

“Cuma gelagatnya pemerintah tidak berani ambil risiko.  Karena ini cukup sensitif untuk menaikkan harga, ” kata dia.

Dengan begitu, maka beban subsisi yang ditanggung APBN dipastikan akan membengkak. “Nanti kita lihat APBN 2019. Jadi komprominya pemerintah supaya BBM tidak naik mau tidak mau dikompensasi dengan subsidi,” tukasnya.

Sementara itu,  Ekonom universitas Indonesia (UI) Telisa A Valianty mengatakan,  pengendalian impor oleh pemerintah sudah tepat. Namun,  ia mengingatkan hanya boleh dilakukan dalam jangka pendek.  Sebab,  dalam jangka panjang terdapat perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya mengikat.

“Menurut pengusaha sebenarnya itu agak merugikan. Tapi menurut saya ini dalam jangka pendek diperlukan untuk menekan impor, ” kata dia. (FIN/Fly)

No Responses

Leave a Reply