Luis Mila Tak Ada Kabar, PSSI Incar Simon MC Menemy

Luis Mila Tak Ada Kabar, PSSI Incar Simon MC Menemy

Jakarta, Radar Makassar – Simon McMenemy menjadi salah satu pelatih yang dispekulasikan bakal jadi pengganti Luis Milla. Simon merasa terhormat atas kemungkinan itu.

Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI) belum memutuskan siapa pelatih Timnas Indonesia setelah kontrak Milla berakhir usai Asian Games 2018. PSSI kabarnya masih berusaha untuk menawarkan kontrak baru untuk Milla, namun belum ada hasil positif sampai detik ini.

PSSI tampaknya sudah mulai mencari alternatif pelatih lain jika negosiasi dengan Milla menemui jalan buntu. Salah satunya adalah dengan memunculkan Kurniawan Dwi Yulianto di jajaran kepelatihan Timnas Indonesia saat menang 1-0 melawan Mauritius di laga uji coba.

Ada nama lain yang beredar ke permukaan, yakni Simon selaku pelatih Bhayangkara FC. Pelatih kelahiran kota Aberdeen, Skotlandia, itu masuk menjadi salah satu kandidat pengganti Milla.

“Tentang tim nasional, saya rasa saya mengetahui sebanyak yang Anda ketahui. Banyak isu di media sosial, saya banyak mendapat pesan menanyakan soal timnas,” kata McMenemy usai membawa Bhayangkara FC menang 1-0 atas Perseru Serui di Stadion PTIK, Jakarta, Rabu (12/9/2018).

“Ketika disebut bahwa saya kandidat untuk melatih timnas, itu merupakan kehormatan untuk saya,” sambung Simon.

Simon adalah pelatih yang sudah lama bergelut di persepakbolaan Indonesia. Dia memulainya dengan melatih Mitra Kukar pada musim 2011/2012. Puncaknya, Simon membawa Bhayangkara FC juara Liga 1 2017.

“Rumor ini sama sekali tidak mengganggu saya, karena sampai sekarang saya masih fokus untuk membawa Bhayangkara mempertahankan gelar. Yang saya pikirkan adalah menang dan menang bersama tim ini,” tegas Simon.

—++

Rupiah Picu Kenaikan Harga Sembako

Jakarta, Radar Makassar – Ekonom Indef,  Abra Talattov mengingatkan pelemahan rupiah yang berlangsung lama akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.  Sebab,  pemerintah masih mengandalkan barang-barang impor untuk kebutuhan pangan.

“Beras kita impor. Meskipun tidak dikenakan tarif PPh,” ujar Abra,  di Jakarta, Selasa (11/19).

Dengan terdepresiasi nilai tukar,  maka secara otomatis nilai impor naik. Bahkan, kenaikan harga sudah terjadi untuk komoditas kedelai. “Itu kan sudah naik dan menjadi bahan baku industri UMKM untuk pembuatan tahu, tempe dan seterusnya. Dan itu pasti tahu tempe termasuk kebutuhan pokok yang menyumbang inflasi, ” kata dia.

Sementara itu,  untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, Abra memprediksi tidak akan dinaikan hinggga 2019. Padahal, migas turut berkontribusi besar terhadap defisit neraca berjalan. Masalahnya, volume impor meningkat, dan nilai impornya juga meningkat karena depresiasi nilai tukar.

“Cuma gelagatnya pemerintah tidak berani ambil risiko.  Karena ini cukup sensitif untuk menaikkan harga, ” kata dia.

Dengan begitu, maka beban subsisi yang ditanggung APBN dipastikan akan membengkak. “Nanti kita lihat APBN 2019. Jadi komprominya pemerintah supaya BBM tidak naik mau tidak mau dikompensasi dengan subsidi,” tukasnya.

Sementara itu,  Ekonom universitas Indonesia (UI) Telisa A Valianty mengatakan,  pengendalian impor oleh pemerintah sudah tepat. Namun,  ia mengingatkan hanya boleh dilakukan dalam jangka pendek.  Sebab,  dalam jangka panjang terdapat perjanjian-perjanjian internasional yang sifatnya mengikat.

“Menurut pengusaha sebenarnya itu agak merugikan. Tapi menurut saya ini dalam jangka pendek diperlukan untuk menekan impor, ” kata dia. (FIN/Fly)

No Responses

Leave a Reply