Perlu Strategi Ganda Parpol Menangkan Pemilu

Perlu Strategi Ganda Parpol Menangkan Pemilu

RADAR MAKASSAR – Perubahan aturan penyelenggaraan Pemilu 2019 membuat partai politik peserta pemilihan perlu membuat strategi ganda untuk mendulang suara.

Sebagaimana amanah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu mengatur bahwa Pemilu 2019 diselenggarakan secara serentak, yakni pemilu legislatif dan pemilu presiden, sehingga partai politik-partai politik peserta pemilihan mendatang juga menerapkan strategi baru.

Target ganda yang diterapkan partai politik-partai politik itu, di satu sisi berusaha meraih perolehan suara maksimal pada pemilu legislatif untuk menempatkan sebanyak-banyaknya kader di parlemen, sedangkan di sisi lain berusaha memenangkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang diusungnya.

Pengamat Politik UIN Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad menjelaskan penyelenggaran Pemilu yang dihelat bersamaan antara Pilpres dan Pileg hanya memberi keuntungan kepada dua partai saja. Yakni PDI-P dan Gerindra.

Olehnya, menurut Firdaus partai koalisi lain yang bergabung ke kedua poros tersebut perlu strategi ganda untuk menangkan partainya masuk dalam parlemen.

“Kondisi ini juga berdampak di Sulsel, karena memiliki masalah yang sama yakni semua partai mau menang baik di pileg maupun pilpres.Problemnya sama, semua partai harus prioritas menangkan calegnya, disisi lain juga pilpres,” tuturnya.

Pengamat Politik, Andi Luhur Priayanto, menjelaskan bahwa dukungan partai politik di Pilpres, bisa di sederhanakan di dua lintasan, lintasan utama dan lintasan satelit (pinggiran).

Lintasan pertama kata dia adalah partai politik yang memiliki ikatan dan keterkaitan langsung dengan calon presiden dan calon wakil presiden.

Sedangkan di lintasan satelit adalah partai politik pendukung pinggiran, yang tidak memiliki ikatan langsung degan calon presiden maupun calon wakil presiden.

“Partai politik pendukung di lintasan satelit atau pendukung pinggiran memang tidak banyak mendapat insentif elektoral, dari sikap dukungan nya pada Capres/Cawapres.

Terutama karena sikap dukungan itu juga, berbasis pragmatisme transaksional serta lebih pada akomodasi aspirasi elit yang bukan untuk tujuan tujuanpasca Pemilu 2019. Ikatan dukungan mereka memang serba pragmatis,” jelasnya. (kas/rah)

No Responses

Leave a Reply