Anggaran Tak Terserap di Akhir Tahun, Begini Kata Gubernur Sulsel

Anggaran Tak Terserap di Akhir Tahun, Begini Kata Gubernur Sulsel

RADAR MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah beralasan rendahnya pencapaian serapan anggaran hingga akhir tahun disebabkan oleh tagihan pembayaran yang menumpuk di akhir tahun.

Nurdin menargetkan, penyerapan anggaran tahun ini sama dengan capaian tahun sebelumnya, yakni 89 persen hingga 90 persen lebih.

“Targetnya Insya Allah sama dengan tahun lalu dan sekarang memang serapannya lebih rendah dibanding (capaian) pekerjaannya,” tuturnya, kemarin.

Ia menjelaskan, saat ini banyak pekerjaan yang tengah dijalankan namun pembayarannya belum ditagih oleh kontraktor. Sementara penyerapan anggaran terhitung ketika pekerjaan tersebut telah dibayar.

“Ada beberapa dinas yang proyeknya dalam pengerjaan dan kontraknya rampung nanti akhir Desember jadi belum terserap,” tambahnya.

Hal ini, sambungnya, perlu dikoreksi. Proses pengurusan pembayaran dianggap masih berbelit sehingga kontraktor yang melaksanakan pekerjaan fisik memilih menagihnya di ujung tahun anggaran.

“Itu koreksi untuk sistem kita. Sistemnya harus diperbaiki supaya orang dimudahkan dalam menagih agar tagihannya dilakukan rutin. Dengan tagihan rutin maka angka serapan jadi baik,” kata Nurdin.

Hingga per Selasa (4/12), serapan anggaran triwulan IV di ruang lingkup Pemprov Sulsel baru mencapai 72 persen untuk realisasi keuangan dan realisasi fisik mencapai 67,13 persen. Itu dari pagu anggaran Rp9,6 triliun APBD Sulsel. Idealnya, serapan anggaran per Desember harus diatas 90 persen.

Tiga OPD dengan serapan anggaran tertinggi yakni dinas Perpustakaan dan Kearsipan sebesar 91,5 persen, dinas Ketenagakerjaan 89,06 persen dan Dinas Sosial 85,01 persen.

Untuk realisasi terendah, ada di Rumah Sakit Ibu dan Anak Pertiwi 34,60 persen, Rumah Sakit Sayang Rakyat 37 persen, dan Rumah Sakit Labuang Baji 43%.

Dikonfirmasi, Direktur RS Labuang Baji Mappatoba beralasan rendahnya realisasi anggaran di akhir tahun karena kontrak pengerjaan konstruksi bangunan di RS Labuang Baji baru akan berakhir pada 31 Desember. “Anggaran kita belum terserap karena janji kontrak rumah sakit sampai per tanggal 31 Desember. Belum dibayarkan,” ujar Mappatoba, kemarin.

Saat ini progres pengerjaan fisik di RS Labuang Baji sudah 90 persen. Ia optimis pekerjaan bisa rampung pekan depan.Tahun ini, RS Labuang Baji dianggarkan Rp68 miliar.

Setidaknya ada lima paket pengerjaan konstruksi yang telah dilelang. Dua diantaranya menelan anggaran lebih dari Rp20 miliar. Dua paket itu, adalah kelanjutan pembangunan gedung B untuk rawat inap sebesar Rp 23,75 miliar dan gedung perawatan ibu dan anak Rp 14,2 miliar.

Paket ke empat pembangunan gedung Gubernur untuk VIP, VVIP, dan laboratorium radiologi Rp3,8 miliar. Dan paket terakhir untuk pembangunan gedung penunjang atau CSSD Rp1,9 miliar. Serta biaya jasa konsultan pengawasan sekitar Rp1 miliar. (pop/fly)

No Responses

Leave a Reply