Bahaya Konsumsi SKM Bagi Balita

Bahaya Konsumsi SKM Bagi Balita
Ilustrasi

RadarMakassar.com–Masalah gizi anak balita masih memprihatinkan. Minimnya pengetahuan orang tua dan informasi produk makanan yang menyesatkan menjadi salah satu penyebabnya. Pakar Gizi Universitas Hasanuddin, Prof Nurpuji Astuti menilai, gizi buruk berawal dari masalah rendahnya pengetahuan orang tua. Sebagai contoh, masih banyak para orang tua yang tidak tahu kalau Susu Kental Manis (SKM) itu bukanlah susu untuk anak. “Pemberian SKM pada balita dan anak-anak masih banyak ditemui,” katanya, kemarin.

Susu Kental Manis (SKM) merupakan susu sapi yang airnya telah dihilangkan terlebih dahulu dan kemudian ditambah dengan gula dalam jumlah yang banyak hingga menghasilkan susu yang rasanya sangat manis. “Bahaya bagi kesehatan balita,” ujar Guru Besar Unhas itu.

Kata Nurpuji, SKM mengandung lemak jenuh, karbohidrat, protein, gula, kalium, natrium, vitamin A, vitamin B1, vitamin D3, vitamin B6, niasin, vitamin E, kalsium fosfor, dan kolin yang sangat tinggi. Setiap 1 sendok makan (19,1 gram) susu kental manis mengandung 61 kalori, 2 gram lemak, 6,5 miligram kolesterol, 24,3 mili gram sodium dan 71 miligram kalium.

Bisa dikatakan lebih dari 50 persen SKM adalah gula. Sementara kadar protein susunya sendiri sebanyak 2 gram, atau hanya 4 persen dari asupan protein yang disarankan per hari. Sedangkan, kadar kalsiumnya hanya 5 persen dari asupan yang disarankan per hari untuk per orang.

Bayangkan, kata dia, bila dikonsumsi oleh bayi dan balita, susu kental manis bisa berefek negatif karena mengandung lemak dan gula dengan kadar yang sangat tinggi dan tak seimbang. Bukan hanya itu, balita dan bayi yang diberikan SKM berpotensi mengalami diare, terutama bagi bayi yang tidak tahan terhadap kandungan di dalam susu tersebut.

“Berbeda dengan ASI yang mengandung zat antibodi pembentuk kekebalan tubuh untuk melawan bakteri dan virus. Jadi, bayi yang diberi ASI berisiko lebih kecil untuk terserang penyakit,” ujarnya.

Jika dibiarkan, menurutnya ancaman gizi buruk dan stunting akan terus menghantui anak-anak akibat pemenuhan zat gizi anak yang masih memprihatinkan.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Sulsel Astati Amin mengatakan sejak tahun lalu, pihaknya terus intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkhusus kepada para ibu tentang bagaimana mengkonsumsi SKM dengan tepat hingga tidak menjadi racun bagi tubuh.

“Kami terus mengingatkan kepada masyarakat agar sebaiknya SKM tidak dilarutkan dengan air dan diminum sebagai penambah energi melainkan digunakan sebagai bahan makanan yang sesuai dengan takaran yang tepat,” jelasnya.

Karena kadar glukosanya sangat besar, maka Astuti mengimbau agar para ibu dianjurkan tidak memberikan kepada anak dibawah lima tahun, sebab bisa berdampak pada kesehatan.

Dinkes juga rutin melakukan kunjungan ke tiap Puskesmas untuk mengedukasi masyarakat yang masih belum paham dengan penggunaan SKM tersebut. “Jangan sampai susu formula diganti dengan SKM. Kami terus sosialisasikan,” tandasnya. (and/pop)

No Responses

Leave a Reply