Integritas BRI Dipertanyakan

Integritas BRI Dipertanyakan

RadarMakassar.com–Penggelapan dana nasabah oleh teller BRI membuktikan integritas BRI begitu lemah. Imbasnya, nasabah kini mulai tak nyaman menabung.
Teller BRI bernama Rika Dwi Merdekawati itu diduga kuat telah menggelapkan 47 uang nasabah yang disetor sekira Rp2,3 miliar. Sejumlah nasabah lain pun mengaku was-was kini menabung di BRI.

Salah satu nasabah Bank BRI, Ayu Budi Utami mengaku was-was dengan adanya kejadian ini. “Apalagi BRI terlalu banyak masalahnya,” kata Ayu, kemarin.
Menurutnya, kejadian ini membuat dirinya ragu untuk terus menyimpan uang di Bank BRI, apalagi dilakukan oleh orang dalam. Nasabah kini mulai ragu.

Apalagi, kata Ayu, tidak ada jaminan keamanan bagi tabungan yang dimiliki nasabah. BRI kata dia, seharusnya memberikan jaminan jika tak ingin nasabahnya lari. “Harus ada penjagaan yang ketat dan memastikan kembali bahwa kejadian ini tak akan terulang lagi,” pungkasnya.

Pengamat Perbankan, Prof Marzuki Dea mengatakan, kekhawatiran nasabah merupakan hal yang wajar. Apalagi, kasus seperti ini bukan kali pertama terjadi di BRI.
Harusnya, kata Marzuki, pihak perbankan memperketat pengawasan terhadap tabungan milik nasabahnya. “Jangan hanya rajin membujuk masyarakat menjadi nasabah, tapi tidak memperdulikan masalah besar seperti ini,” tegasnya.

Menurutnya, ini adalah kelalaian perbankan yang disengaja. Sebab segala keamanan uang nasabah bergantung pada kesiapan masing-masing bank untuk mencegahnya. “Integritas BRI kini dipertayakan. Kontrolnya yang lemah, akuntabilitas yang rendah, dan tekanan yang tinggi, peluang seseorang menjadi tidak jujur akan makin besar. Padahal ini bisa dihilangkan ketika pihak bank bisa memberikan dukungan dari budaya kejujuran yang tinggi, keterbukaan, dan program khusus bantuan kepada personel saat melakukan perekrutan,” terangnya.

Khususnya, kata Marzuki, dengan menciptakan dukungan, paling tidak bank harus mempekerjakan orang-orang yang jujur dan selalu memberikan pelatihan kepada mereka mengenai kesadaran akan kejahatan dan menciptakan lingkungan kerja yang positif. Dengan menciptakan kontrol internal yang bagus, maka akan menciptakan kontrol lingkungan yang bagus pula, sistem akuntansi yang bagus, dan kontrol prosedur (aktivitas) yang juga bagus pula dalam dunia perbankan.

“Kuncinya, kontrol lingkungan harus mencakup integritas, nilai etika dan kompetensi sumber daya manusia (SDM), gaya dan filosofi manajemen, gaya manajemen dalam mengalokasikan wewenang, tanggung jawab, dan pengembangan SDM, serta perhatian dan arahan pimpinan,” paparnya.

Marzuki menambahkan, dalam pengawasan personel, para pelaku kejahatan biasanya menggunakan hasil jarahannya untuk mendukung gaya hidup yang mahal. Dengan mengawasi gaya hidup setiap pegawai dan fasilitas-fasilitas pribadi di sekelilingnya, bank bisa melakukan langkah pencegahan. Sebab, para personel yang berpotensi melakukan kejahatan merasa terus diawasi.

Sementara itu, pihak bank BRI hingga kini masih enggan berkomentar. Menurut, Corporate Secretary Bank BRI, Bambang Tribaroto, pihaknya hanya ingin memastikan tidak ada nasabah yang dirugikan. “Intinya, kami tidak mentolerir atas perbuatan fraud, baik yang dilakukan pihak eksternal maupun internal,” ujarnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulsel Kombespol Dicky Sondani mengungkapkan, sepekan setelah laporan diterima, pihaknya kemudian mengungkap dan berhasil mengamankan pelaku bernama Rika Dwi Merdekawati, (28). Oknum teller BRI Toddopuli itu diamankan di salah satu hotel di Jalan Metro Tanjung Bunga Makassar.

“Jadi yang bersangkutan dilaporkan atas dasar kasus perbankan, penggelapan uang nasabah sebesar Rp2,3 miliar. Setelah kami kembangkan, yang bersangkutan berhasil diamankan,” ungkap Dicky.

Berdasarkan hasil penyelidikan, Rika memalsukan seluruh berkas transaksi setoran dana nasabah bank. Setiap nasabah yang menyetorkan dana, nota setoran, hingga tanda tangan nasabah dipalsukan oleh tersangka. Jika nasabah menyetorkan Rp 10 juta, tersangka memalsukan nota menjadi Rp 5 juta kemudian disetorkan.
“Jadi tersangka berperan sendiri, memalsukan semua berkas nasabah. Awal-awal memang tidak kelihatan, nanti banyak nasabah yang melapor jumlah setoran tidak sesuai makanya ketahuan,” terang Dicky.

Rika melancarkan aksinya sejak awal bulan ini. Ada 47 nasabah yang menjadi korban. Sejumlah alat bukti disita oleh penyidik. Mulai dari laptop, handphone, hingga 15 rekening yang dipalsukan tersangka. Tersangka yang baru 4 tahun menjadi teller di BRI Cabang Toddopuli itu ditahan di Mapolda Sulsel. Polisi masih mendalami latar belakang penggelapan dana nasabah tersebut. Akibat perbuatan melawan hukumnya, tersangka dijerat pasal 49 ayat 1 Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan. (wah-and/pop)

No Responses

Leave a Reply