Dua Pelajar Asal Gowa Dipekerjakan di Alexis

Dua Pelajar Asal Gowa Dipekerjakan di Alexis
Ilustrasi

RadarMakassar.com--Dua remaja yang masih berstatus pelajar di Gowa berinisial  DN (17) dan NA (18) menjadi korban perdagangan manusia (Human Trafficking) yang dilakukan oleh pelaku bernama Amir Bin Ambo (34). Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Herly Purnama mengatakan, pelaku Amir Bin Ambo merupakan pemilik Cafe di Kabupaten Pangkep.  Pelaku bersama dua orang rekannya yakni Muh. Saing (23) dan Nurahmi (17) mempekerjakan kedua korban di cafenya.

“NR ini berperan menawarkan pekerjaan kepada korban sebagai karyawan di cafe dengan iming-iming gaji Rp500.000 per minggu. Setelah tiba di Cafe milik pelaku Amir, korban dipekerjakan sebagai pelayan yang tugasnya menemani tamu untuk minum minuman beralkohol,” ungkap Herly Purnama saat merilis kasus ini di Polres Gowa, Senin (11/2).

Ia menerangkan bahwa sebelum korban di bawa ke Pangkep oleh Amir dan Muh. Saing, korban tidak mengetahui akan dipekerjakan sebagai pelayan cafe yang menemani tamu untuk minum minuman keras. “Menurut pengakuan korban, mereka sempat meminta izin untuk pulang ke rumahnya di Gowa, namun tidak dizinkan oleh pelaku,” terangnya.

Berdasarkan hasil interogasi terhadap pelaku Amir dan Nurahmi, ia mengakui mempekerjakan kedua korban di cafe yang berbeda. DN dipekerjakan dicafe 01 dan NA dipekerjakan di cafe Alexis, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep. “Setelah memperoleh informasi tersebut, personil Satreskrim dan Unit PPA Polres Gowa langsung menjemput kedua korban di Pangkep,” ujarnya.

Saat ini, ketiga pelaku sudah diamankan di Polres Gowa dan telah ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan sejumlah  barang bukti. Adapun barangbukti yang berhasil diamankan yakni 4 buah HP berbagai merk yang digunakan pelaku untuk menghubungi korban.

“Ketiga pelaku kita kenakan dengan pasal 2 UU No. 21 Tahun 2017 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang atau pasal 183 Jo pasal 74 UU no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan atau pasal 83 Jo pasal 76 f UU no. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak atau pasal 332 KUPH pidana dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” ujarnya.

Herly menambahkan bahwa kasus perdagangan manusia ini terungkap setelah orang tua korban melaporkan kasus tersebut pada hari Jum’at (8/2).

“Orang tua korban ini melaporkan bahwa anaknya NA meninggalkan rumah pada tanggal 26 Januari 2019. Ia mengaku anaknya akan dijemput oleh pelaku di Jl. Minasaupa, Makassar dan akan dibawa ke Pangkep,” tambahnya. (asn/niz)

No Responses

Leave a Reply