Industri Perbankan di Makassar Tumbuh Signifikan

Industri Perbankan di Makassar Tumbuh Signifikan

INDUSTRI jasa keuangan di Provinsi Sulawesi Selatan saat ini tercatat mengalami pertumbuhan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini ditopang dari kinerja intermediasi tinggi, serta tingkat risiko yang relatif aman.

Kepala OJK Kantor Regional 6 Sulampua, Zulmi menerangkan, aset perbankan di Sulsel per Agustus tumbuh 6,72% yoy dengan nominal mencapai Rp150,33 triliun. Nilai tersebut terdiri dari aset bank umum Rp147,40 triliun dan aset BPR Rp2,92 triliun.

Selain itu, industri perbankan syariah juga menunjukan kinerja yang atraktif di Tahun ini yaitu tumbuh 9,68% yoy.

“DPK perbankan syariah tumbuh 16,08% yoy, melampaui pencapaian bank konvensional yaitu di level 6,30% yoy,” ujar Zulmi.

Zulmi mengatakan, dari sisi kredit juga menunjukkan kinerja positif, yaitu tumbuh 5,94% yoy, menjadi Rp124,15 triliun, terdiri dari kredit modal kerja Rp46,47 triliun, kredit investasi Rp 21,43 triliun, dan kredit konsumsi Rp56,25 triliun.

“Kredit macet perbankan Sulsel juga masih di level yang aman, yaitu 3,82%. Rinciannya yaitu bank umum berada di posisi 3,84%, sedangkan kredit macet BPR berada pada posisi lebih rendah yaitu 2,66%,” terangnya.

Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), kata Zulmi, telah mencapai 91,23% dari target Rp6,63 triliun. KUR tersebut disalurkan kepada 238.931 debitur dengan NPL berada pada posisi yang sangat rendah yaitu 0,06%.

“Penyaluran KUR telah menjangkau seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dengan realisasi tertinggi di Kota Makassar Rp691,62 miliar, disusul Kabupaten Bone Rp 556,83 miliar,” imbuhnya.

Hal tersebut membuktikan jika kinerja Perbankan terus mengalami pertumbuhan. Bank Sulselbar mengakui jika pertumbuhan bisnis perseroan rerata naik menjadi double digit dari tahun sebelumnya.

“Aset dari Rp 17,54 triliun menjadi Rp 20,83 triliun tumbuh 18,72 persen, laba bersih dari Rp 539,44 miliar menjadi Rp 605,12 miliar tumbuh 12,17 persen,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Bank Sulselbar, Irmayanti Sultan.

Bahkan, kata Irmayanti, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit di Bank Sulselbar juga mengalami kenaikan. Dimana, DPK dari Rp 11,73 triliun di 2017 menjadi Rp 13,33 triliun di 2018 tumbuh 12 persen, sedangkan penyaluran kredit dari Rp 14 triliun menjadi 15,97 triliun tumbuh 12,33 persen.

“Pada tahun ini, total DPK tercatat Rp17,36 triliun naik 14,36 persen dari periode sama tahun lalu,” ujarnya.

Jika ditelisik lebih lanjut, kinerja fungsi positif perseroan ini merupakan lanjutan tahun 2018. Kredit dan dana pihak ketiga masing-masing tumbuh 14,08 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp15,23 triliun, dan 14,48 persen yoy menjadi Rp12,65 triliun.

Sementara itu, rasio dana murah (current account and savings account/CASA) per Juni 2019 tercatat naik 765 basis poin menjadi 68,78 persen.

“Tren ini menjadi motor utama bagi perseroan untuk dapat mempertahankan laba bersih Rp283,05 miliar pada tahun ini,” ucap Irmayanti.

Sementara, Pengamat Ekonomi dari Unismuh Makassar, Abdul Muthalib, mengakui industri perbankan dalam negeri kini luar biasa termasuk di Makassar. Salah satunya unggul di rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR).

“Industri perbankan di Kota Makassar ini dikatakan luar biasa mengalami pertumbuhan,” kata Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib menjelaskan, saat ini CAR perbankan tanah air patut dibanggakan karena bisa mencapai 20%. Sebab, posisi itu bisa menjamin margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) yang saat ini terbilang tinggi atau aman.

“Itu sudah bagus, pada akhirnya memungkinkan penghasilan utama perbankan dari selisih bunga, menjamin mereka hidup lebih tenang,” tuturnya.

Ia menyarankan, pemerintah lewat otoritas keuangan sebaiknya jangan terpaku pada perbankan dari mancanegara, termasuk soal CAR-nya. Namun sebaliknya, harus memamerkan keunggulan industri perbankan dimiliki saat ini termasuk di Makassar..

“Tentu harus promosikan apa kelebihan yang kita miliki,” tutupnya. (*)

Penulis : Ninik Sumarni Nanring

No Responses

Leave a Reply