Ingin Unhas Bereputasi Internasional, Prof Indrianty Komitmen Jadi Rektor

Ingin Unhas Bereputasi Internasional, Prof Indrianty Komitmen Jadi Rektor

Radarmakassar.com – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Indrianty Sudirman mendaftar sebagai calon rektor Unhas periode 2022-2026. Penyerahan berkas pendaftaran berlangsung di Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor (P2R), Lantai 4 Gedung Rektorat Unhas, Kampus Unhas Tamalanrea, Kamis (19/8/2021).

Sebelum mendaftar, Sekretaris Majelis Wali Amanat ini dilepas langsung oleh sejumlah guru besar dan pimpinan fakultas di Pascasarjana FEB. Termasuk diantaranya Prof Basri Hasanuddin, Prof Djabir Hamzah, dan Prof Rahman Kadir.

Ditemui usai pendaftaran, Prof Indri berkomitmen membawa Unhas menjadi kampus yang bereputasi internasional. Untuk mewujudkan itu, kata Prof Indri tercermin pada tagline yang dibawa di Pemilihan Rektor Unhas, yakni SEND IS by Collaboration (Start from the end to innovate for Sustainability by Collaboration).

“Jadi tagline yang saya usung untuk mewujudkan makna Unhas yang telah disusun pada 2009 maka untuk 2022-2026 saya ingin mewujudkan, memperluas makna peran Unhas sebagai universitas menjadi entrepreneur university bereputasi internasional,” ujar Prof Indri.

Sebagai bukti untuk menunjukan kapabilitas menjadi rektor Unhas, Prof Indri sudah berpikir lebih jauh untuk memperluas prestasi Unhas dengan membangun kolaborasi antara pemerintah, swasta, intelektual, komunitas kreatif, media dan lembaga-lembaga lainnya.

“Jadi kita ingin melibatkan seluruh komponen hexa helix jadi kalau dulu masih pentahelix, triple helix, sekarang dengan komponen hexa helix, tambahannya itu dengan teman-teman media ini, untuk berkolaborasi, berinovasi untuk menjamin Sustainability atas semua prestasi membanggakan atas semua yang telah dicapai Unhas selama ini, dan kalau bisa lebih meningkat lagi,” jelasnya.

Salah satu tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan, kata Prof Indri adalah industri 4.0. Sehingga untuk menjawab hal hal itu, maka yang perlu dilakukan dengan knowledge management system.

“Memang kita hadapi berbagai tantangan, salah satu tantangan adalah disruption karena industri 4.0. Menjawab disruption tersebut kita tidak bisa serta merta dengan melakukan dengan investasi teknologi komunikasi semata-mata tanpa mempertimbangkan,” terangnya.

“Oleh karena itu sudah menjadi bagian-bagian di dalam program saya yang sejak dulu saya selalu mencanangkan knowledge management system, kita harus merubah paradigma, mungkin bukan hanya program studi tanpa menghilangkan substansi dari mandat kita sebagai tri dharma perguruan tinggi,” sambungnya.(fdl)

No Responses

Leave a Reply