Friday 28th January 2022

Kasus Investasi Bodong Dimakassar, Polisi Tetapkan 3 Orang Tersangka

RADARMAKASSAR – Direktorat reserse kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Sulsel masih terus mengejar salah satu terduga pelaku penipuan investasi Bodong di Makassar yang rugikan para korban hingga mencapai puluhan milyar.

Kasubdit II Ditreskrimum Polda Sulsel, AKBP Ahmad Mariadi membenarkan bahwa tersangka utama, Sulfikar sudah DPO dan dalam pengejaran Polisi kemudian salah satu tersangkanya bernama St Suleha berkas perkara telah dikirim ke Kejati Sulsel.

“Laporannya sudah kita tindaki dan Sudah ada tersangka 3 orang, Sulfikar, Hamsul dan St, Suleha, 1 orang DPO atas nama Sulfikar dan dalam pengejaran Polisi,” Katanya saat di temui di Mapolda Sulsel, Rabu (5/1/2021).

Adapun pencarian DPO kata dia, Polda Sulsel telah dibantu Bareskrim dan sampai saat ini belum di tahu keberadaannya. Yang jelasnya kata dia pihak kepolisian sudah bekerja, mulai dari terima laporan kemudian penyelidikan dan upaya penangkapan di Jakarta sampai 10 hari telah dilakukan.

“Kemudian kami ke Bali dan di back up dengab polda Metro Jaya dan Bareskrim,” terangnya.

Lebih lanjut, Ahmad Mariadi mengatakan peran dari ketiga tersangka tersebut yakni, Sulfikar sebagai pimpinan dari perusahaan investasi Bodong tersebut sementara Hamsul bertugas sebagai pencari nasabah.

“Sulfikar adalah pimpinan, sementara Hamsul dia yang cari nasabah kemudian meprospek para calon nasabah cara kerja digital tambang maupun algopet selanjutnya kalau masukkan uang segini untungnya segini, St. Sulahe itu sebagai Administrasi yang menerima transfer,” tuturnya.

Ia menambahkan saat ini pihaknya terus melakukan pelacakan terkait keberadaan dari tersangka DPO Sulfikar baik melakukan jejak media sosial maupun hal yang lainnya.

“Kita terus mengawas jejak digitalnya dimana dia berada,” pungkasnya.

Ia pula mengungkapkan beradasarkan hasil dari penelusuran ke Pihak Otoriras Jasa Keuangan (OJK) Investasi tambang digital dan algopet tidak terdaftar.

“Kami sudah memeriksa pihak OJK maupun Bapekti, digital tambang maupun algopet yang digunakan ini tidak terdaftar,” katanya.

Sementara Salah satu korban Investasi digital Bodong tersebut berinisial El mengaku tertipu Rp5,9 miliar dari tersangka. Modusnya kata dia, pelaku menawarkan investasi tambang digital ilegal dengan nilai Rp800 juta per tambang.

Satu tambang keuntungan passive income yang dijanjikan Rp40 juta sampai Rp100 juta per bulan. Sebab itulah El mengaku tertarik dengan investasi ini.

Apalagi kata dia, tersangka menyakinkan dengan postingan salah satu tersangka yang selalu memamerkan uangnya yang ratusan juta hingga miliaran di media sosialnya dengan kata-kata “Tetap produktif pada saat pandemi”.

Dari postingan itulah, korban mengaku mulai tertarik dan menanyakan ke tersangka bahwa itu bisnis apa. Kemudian tersangka menjawab bahwa itu investasi tambang digital hingga El menyetor investasi dengan nilai yang masih kecil.

Namun setelah berjalan 2 bulan, tersangka menawarkannya untuk ikut tambang dengan modal besar yang disebut coin ALG yang setelah di tanyakan ke bappepti merupakan koin ilegal. “Saya tanyakan apa itu coin ALG, dia bilang seperti emas yang tidak ada ruginya. Itulah yang disebut satu tambang yang investasinya Rp800 juta dengan keuntungan Rp40 juta. Bahkan tahun depan bisa sampai Rp100 juta,” katanya.

Tersangka juga menyakinkan korbannya dengan mengatakan uangnya tidak bakalan hilang karena yang punya tambang, Sulfikar punya kekayaan yang sudah tidak bisa terhitung.

“Diperlihatkan lah tabungan Sulfikar seorang DPO sampai yang sampai Rp68 miliar dan ribuan BTC-e yang senilai satu triliun,” katanya.

Tersangka juga menyebut bahwa pemilik tambang itu pemodal PT Jappa dan pemodal di IMB showroom. “Makanya kami semakin tergerak menyerahkan uang Rp800 juta untuk investasi,” terang El.

Berjalan waktu, El minta ketemu dengan pemilik tambang. Namun tersangka mengatakan ada syaratnya, yaitu harus investasi lagi tiga tambang jika mau ketemu.

Sebab itu, El kembali investasi 3 tambang dengan nilai Rp2 miliar lebih dan akhirnya dipertemukan. Setelah dipertemukan, El mengaku semakin tertarik karena DPO mengatakan uangnya sudah tumpah-tumpah dan tidak tahu lagi mau diapain.

“Makanya dia buat invetasi ini supaya bisa mensejahterakan rakyat indonesia yang susah secara keuangan. Kami pun semakin yakin dan say serahkan uang lagi. Hingga akhirnya tertipu sampai Rp5,9 miliar dari investasi ini,” katanya.

Korban lainnya, FH mengaku ditipu sekira Rp300 juta. Dia sendiri mengaku tertarik karena tersangka menjanjikan keuntungan 300 persen dalam jangkau 3 tahun yang diberikan per hari.

Tetapi kenyataannya, setelah berjalan beberapa bulan, aplikasinya mengalami kemacetan dengan alasan awal maintenance. Tapi ternyata maintenance yang tidak berujung,” katanya.

Hingga ia bersama korban lainnya mencoba mendekati pribadi dan secara kekeluargaan dengan meminta minimal modal dikembalikan. Namun tidak ada juga niat baik sehingga itulah kasus ini dilaporkan ke Polda Sulsel.

“Tapi sudah lama berjalan di kepolisian. Namun kelihatannya juga pihak polisi juga kurang begitu agresif dalam menangani kasus ini karena terbukti yang ditetapkan tersangka juga tidak di tangkap. Yang sudah dinyatakan DPO juga berkeliaran bebas, ke Jawa, Bali dan sebagainya,” tutupnya. (Nca)

No Responses

Leave a Reply