Friday 28th January 2022

Ketua Partai Gencarkan Kampanye di Makassar, Pengamat: Hanya Eforia Politik

RADARMAKASSAR – Meski pemilu baru akan dilangsungkan pada 2024, namun Partai politik (Parpol) terlihat mulai melakukan manuver politiknya, yang ditandai dengan pernyataan ketua-ketua partai yang mendorong kadernya untuk memenangkan seluruh kontestasi politik.

Namun uniknya, hampir seluruh gelaran agenda politik partai digelar di Makassar, mulai dari pelantikan pengurus, orasi ilmiah, dan rapat pleno digelar di Kota Makassar.

Pengamat Politik dan Kebangsaan, Dr. Arqam Azikin menilai apa yang dilakukan oleh Parpol tersebut hanya gerakan politik awal, untuk hanya membangun image partai, sehingga seluruh kegiatan dipusatkan di Makassar.

“Kenapa karena di makassar pertama ibu kota provinsi, kedua makassar masuk 5 kota besar di indonesia, yang ketiga Makassar salah satu perhatian politik nasional. Apalagi tokoh-tokoh yang ada di luar sulsel juga bikin agendanya di makassar,” ujar Arqam

Sehingga, sandaran opini publik disandarkan di Makassar. Namun harusnya lanjut Arqam, komunikasi politik tidak hanya dibangun di Makassar, namun juga di daerah lain.

“Karena di Sulsel ini kan ada penentu suara selain makassar, kenapa karena mereka memang mau ambil gampangnya saja, apalagi disini semua media ada, baik cetak, elektronik, dan tv nasional juga ada,” terangnya

“Terus, karena ini baru gerakan awal, jadi dia kejar hebohnya saja, hanya image, tanda petiknya hanya eforia politik yang dominan,” lanjutnya.

Lanjutnya, selain untuk menaikkan image partai, bisa jadi kata Arqam gerakan politik tersebut hanya untuk menaikkan branding ketua partai.

“Berikutnya bisa jadi mereka hanya memperlihatkan taringnya saja sebagai ketua partai. Misal, bahwa saya ini ketua golkar Taufan atau saya ketua Nasdem RMS, saya ini ketua gerindra irwan aras, saya ini ketua PKS umpamanya. Jadi hanya sebatas itu,” jelasnya

Arqam menilai, apa yang dilakukan oleh Parpol saat ini merupakan metode kuno yang digunakan 10-15 tahun lalu..

“Jadi ketua-ketua partai harusnya tidak hanya sekedar memamerkan pidato politik saja, cenderung saya lihat baru sebatas memamerkan retorika politik saja di depan massanya. Sosialisasi politiknya juga metode 10-15 tahun lalu, apalgi komunikasi politiknya juga masih standar. Tidak ada gagasan yang membuat kita tercerdaskan, itu belum keliahatan,” jelasnya.

Ia pun mengimbau, di tahun 2022 ini, para pengurus Parpol harus memperjelas Pola, Metedologi, dan Strateginya (PMS), sehingga para tokoh partai tak hanya menjual retorika politik saja, namun ikut membantu perkembangan pendidikan politik di Indonesia.

“Saya heran kenapa mereka masih pakai cara lama itu, harusnya pakai cara modern dalam mengkapitalisasi proses pendidikan politik di sulsel,” pungkasnya.

No Responses

Leave a Reply