Proyek Pipa Avtur Ratusan Miliar Bandara Diduga Dijual ke Swasta

Proyek Pipa Avtur Ratusan Miliar Bandara Diduga Dijual ke Swasta

RADARMAKASSAR.COM – Dugaan Kredit macet proyek pembangunan jaringan pipa distribusi avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin milik PT. Pertamina dikabarkan dijual ke sebuah perusahaan sirup di Makassar.

Kontrak pekerjaan proyek ratusan miliar milik PT. Pertamina tersebut awalnya dijaminkan ke tiga Bank yakni Bank Mandiri, BCA dan Permata untuk mendapatkan kredit demi mengerjakan proyek tersebut.

Meski pekerjaan proyek itu digemborkan telah rampung sekitar 80 persen, namun belakangan terendus kabar jika pengerjaannya mangkrak dan hingga saat ini belum dapat difungsikan.

Sikap yang sama juga diperlihatkan oleh Kepala Regional CEO Sulawesi dan Maluku Bank Mandiri (Persero Tbk), Angga Erlangga Hanafie saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut ia beralasan terkait adanya penjualan kredit tersebut.

“Wa alaikum salam, Waah mohon maaf saya ngga ada info ttg itu,” ucapnya saat dihubungi melalui Telephone seluler, Senin (8/6).

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Firdaus Dewilmar mengatakan pihaknya hingga saat ini masih terus mendalami adanya aroma korupsi pada proyek pembangunan jaringan pipa distrubusi avtur milik PT. Pertamina yang telah menelan anggaran ratusan miliar tersebut.

“Penyelidikan masih berjalan dan sudah banyak yang diperiksa terkait itu,” ucap Firdaus saat ditemui di Kantor Kejati Sulsel, Senin (8/6/2020).

Mengenai kabar penjualan kredit macet proyek jaringan pipa distribusi avtur yang dimaksud oleh tiga Bank diantaranya Bank Mandiri, Firdaus mengatakan pihaknya sementara mendalami hal tersebut.

“Tim sedang mendalami semuanya,” ucap Firdaus.

Sementara, Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Idil mengaku hasil penyelidikan sementara ditemukan adanya pencairan kredit dari tiga Bank yakni Bank Mandiri, BCA dan Permata dengan menjaminkan kontrak pekerjaan proyek jaringan distribusi pipa avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang bernilai Rp155 miliar tersebut.

“Terkait kredit macet dari kegiatan itu kemudian dikabarkan dijual ke perusahaan sirup, itu sedang dalam proses penyelidikan mendalam,” ujar Idil saat ditemui di ruangan kerjanya.

Sebelumnya, Pegiat Anti Corruption Committee Sulawesi (ACC Sulawesi), Angga Reksa mengaku mendukung penuh langkah penyelidikan Kejati Sulsel terhadap mega proyek milik Pertamina yang mangkrak tersebut.

Hanya saja, kata dia, Kejati Sulsel harus transparan dan tetap profesional nantinya dalam mengusut tuntas adanya dugaan korupsi pada proyek milik PT. Pertamina itu.

“Aroma korupsi pada mangkraknya proyek tersebut sangat nampak sekali. Kita harap penyelidikan betul-betul maksimal dan segera ada kespastian hukum,” ungkap Angga.

Manager Comunication PT. Pertamina, Hatim Ilwan juga sempat membantah bila proyek tersebut dikabarkan mangkrak.

Menurutnya, pengerjaan proyek yang dimaksud sudah terlaksana 80%.

Adapun kegiatan pembongkaran pipa jaringan yang ditanam di bawah tanah area Bandara, kata dia, itu dilakukan mengkondisikan adanya pembangunan perluasan Bandara oleh PT. Angkasa Pura.

“Jadi dibongkarnya bukan karena kesalahan spek,” kata Hatim. (nca/fly)

No Responses

Leave a Reply